
Bandung, 30–31 Juli 2026 – Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) Jawa Barat bekerja sama dengan Telkom University menyelenggarakan Workshop OBE Teaching & Learning System: Designing Learning Experiences to Develop Real Competencies and Professional Portfolios. Kegiatan pelatihan akademis ini berlangsung selama dua hari penuh di Aula Lantai 4 Fakultas Ilmu Terapan (FIT), Telkom University, Bandung.
Sebanyak 64 dosen, ketua program studi, dan pengembang kurikulum dari berbagai perguruan tinggi negeri maupun swasta anggota APTIKOM Jawa Barat hadir sebagai peserta. Workshop ini menjadi respons nyata terhadap tantangan transformasi pendidikan tinggi dalam menerapkan sistem Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran atau Outcome-Based Education (OBE).
Melalui pendekatan sistematis, para peserta diajak memahami cara merancang pengalaman belajar berbasis kompetensi otentik. Kompetensi tersebut kemudian dibuktikan melalui luaran karya profesional yang terukur dan terdokumentasi dalam portofolio mahasiswa.
Pembukaan Resmi oleh Dekan FIT dan Sekjen APTIKOM
Kegiatan dimulai dengan sambutan resmi Dekan Fakultas Ilmu Terapan Telkom University, Prof. Dr. Dedy Rahman Wijaya, S.T., M.T., dan Sekretaris Jenderal APTIKOM, Prof. Husni Teja Sukmana, S.T., M.Sc., Ph.D.
Prof. Dedy Rahman Wijaya menekankan perubahan mendasar pada filosofi pengajaran di perguruan tinggi. “Implementasi Outcome-Based Education mewajibkan seluruh pendidik untuk mengalihkan fokus utama dari sekadar penyampaian materi kelas ke pembentukan kompetensi nyata,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa seluruh kompetensi tersebut harus terekam secara sistematis dalam portofolio profesional mahasiswa.
Prof. Husni Teja Sukmana menambahkan pentingnya kolaborasi antar-institusi. “Sinergi antar-perguruan tinggi di bawah naungan APTIKOM Jawa Barat menjadi kunci utama percepatan mutu pendidikan informatika,” tegasnya. Menurutnya, keselarasan standar pembelajaran OBE membuat lulusan informatika di Jawa Barat memiliki standar kompetensi yang diakui secara nasional maupun internasional. Usai menyampaikan pandangannya, Prof. Husni Teja Sukmana secara resmi membuka seluruh rangkaian acara.
Penerapan OBE di Indonesia mengacu pada SN-Dikti dan KKNI melalui pendekatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa (Student-Centered Learning). Perancangan akademik dimulai dari penetapan profil lulusan dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), lalu diturunkan secara linier ke CPMK, Sub-CPMK, serta instrumen evaluasi terukur. Workshop dua hari ini membekali peserta dengan integrasi teknologi digital, kecerdasan buatan, metodologi berbasis proyek, dan penyusunan portofolio berbasis bukti otentik.
Hari Pertama: Transformasi Digital, Penggunaan AI, dan Integrasi Industri
1. Strategi Digital dan Keterlibatan Mahasiswa Generasi Z
Pradipta Dirgantara, S.IP., M.IL., M.Sc., dosen Ilmu Komunikasi Telkom University, membuka sesi materi pertama dengan fokus pada strategi meningkatkan keterlibatan mahasiswa (student engagement) dalam ekosistem pembelajaran digital.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa Generasi Z memiliki karakteristik unik: tumbuh di era kelimpahan informasi digital, memiliki rentang perhatian yang terbagi, serta menyukai pemrosesan informasi berbasis visual dan interaktif. Untuk merespons hal tersebut, dosen perlu mentransformasi teknik instruksional kelas konvensional.
Pradipta memperkenalkan empat pilar utama strategi digital: pedagogical storytelling, interaction design, real-world relevance, dan responsive feedback. Pada sesi praktikum, ia memperagakan integrasi platform interaktif seperti Mentimeter, Quizizz, Spido, dan Kahoot sebagai instrumen evaluasi formatif langsung (real-time formative assessment).
“Pendidik harus merancang kelas digital yang interaktif. Kelas tersebut harus mampu mendorong mahasiswa berpikir kritis, mengekspresikan gagasan, serta berkolaborasi secara langsung,” ujar Pradipta Dirgantara.
2. Inovasi Materi Ajar Berbasis Artificial Intelligence
Sesi kedua menghadirkan Prof. Dr. Suyanto, S.T., M.Sc., Rektor Telkom University. Beliau memaparkan inovasi penyusunan bahan ajar dan instrumen pembelajaran berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Prof. Suyanto mengulas perkembangan Generative AI dan Large Language Models (LLM) yang mengubah lanskap pendidikan global. Ia menjelaskan metodologi praktis bagi dosen dalam memanfaatkan AI untuk merancang studi kasus berjenjang, menyusun soal latihan berbasis taksonomi Bloom tingkat tinggi (HOTS), serta menganalisis kebutuhan belajar mahasiswa secara adaptif.
Meski demikian, Prof. Suyanto menekankan pentingnya etika dan validasi akademik. AI tidak boleh dijadikan kebenaran mutlak tanpa verifikasi pakar. Pendidik harus tetap memegang kendali utama (human-in-the-loop).
“Kecerdasan buatan berfungsi sebagai pendorong efisiensi dan akselerator efektivitas pengajaran. Teknologi ini hadir untuk memperkuat peran pendidik, bukan menggantikan peran utama dosen di dalam kelas,” kata Prof. Dr. Suyanto.
3. Penerapan Project-Based Learning Berbasis OBE
Dr. Erna Hikmawati, S.Kom., M.Kom., Kepala Bagian Pengembangan Akademik Telkom University, membawakan sesi ketiga mengenai metodologi Project-Based Learning (PjBL) sebagai pilar operasional utama kurikulum OBE.
Dr. Erna menjelaskan tahapan sintaks PjBL yang terintegrasi dengan OBE: penentuan pertanyaan mendasar, perancangan perencanaan proyek, penyusunan jadwal aktivitas, pemantauan kemajuan, penilaian hasil, hingga evaluasi pengalaman belajar. Setiap tahapan dipetakan secara eksplisit terhadap Sub-CPMK.
Melalui PjBL, mahasiswa tidak hanya menguasai hard skills, tetapi juga mengasah soft skills seperti pemikiran kritis, komunikasi tim, kepemimpinan, dan manajemen waktu. Luaran proyek menjadi bahan utama portofolio kompetensi mahasiswa.
“Project-Based Learning yang dirancang secara tepat akan menghasilkan karya otentik. Karya ini menjadi bukti nyata kompetensi teknis sekaligus manajerial mahasiswa dalam portofolio profesional mereka,” tutur Dr. Erna Hikmawati.
4. Penyelarasan Kurikulum Industri dan KKNI dalam RPS
Nurul Huda, Oracle Academy Southeast Asia Manager, menyajikan materi teknis mengenai integrasi standar kompetensi industri global dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) ke dalam dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
Ia memaparkan bahwa kesenjangan antara keterampilan lulusan dan kebutuhan industri sering terjadi akibat RPS yang tidak diperbarui secara berkala. Tim Oracle memberikan panduan memetakan standar sertifikasi industri (seperti pemrograman basis data dan komputasi awan) ke dalam matriks CPMK.
Peserta diajak melakukan gap analysis antara materi perkuliahan dengan kebutuhan teknologi industri saat ini. Hasil pemetaan membantu menyusun RPS yang adaptif dan relevan.
“Integrasi kurikulum industri ke dalam RPS memberikan kepastian bahwa materi yang dipelajari mahasiswa memiliki korelasi langsung dengan standar kualifikasi pasar kerja global,” jelas Nurul Huda.
5. Perancangan Pembelajaran Aktif (Active Learning Design)
Dr. Lila Setiyani, M.Kom., M.Sc., Pengurus DPP APTIKOM, menutup hari pertama dengan memaparkan konsep Active Learning Design. Ia menekankan bahwa pembelajaran berbasis capaian memerlukan partisipasi kognitif aktif dari seluruh mahasiswa.
Dr. Lila memperkenalkan model instruksional aktif seperti Think-Pair-Share, Jigsaw Method, Problem-Based Learning, dan Case-Based Learning. Ia menyarankan alokasi waktu perkuliahan yang seimbang: ceramah maksimal 20 menit dilanjutkan dengan diskusi terstruktur dan tugas kelompok.
“Model pembelajaran aktif menggeser dominasi dosen di depan kelas menjadi fasilitator kolaborasi akademik yang produktif dan bermakna,” ungkap Dr. Lila Setiyani.
Hari Kedua: Design Thinking, Inovasi Digitally-Driven OBE, dan Showcase Portfolio
1. Pendekatan Design Thinking dalam Pembelajaran OBE
Pada hari kedua (Jumat, 31 Juli 2026), Dr. Lila Setiyani kembali membuka sesi dengan topik Design Thinking for OBE: From Learning to Real-World Product and Portfolio.
Ia membimbing peserta menelusuri lima fase Design Thinking: Empathize, Define, Ideate, Prototype, dan Test. Metode ini diintegrasikan ke dalam penugasan mata kuliah berbasis OBE sehingga tugas mahasiswa menghasilkan produk digital, aplikasi, atau rancangan sistem yang menjawab permasalahan riil.
“Penerapan Design Thinking dalam kerangka OBE melatih mahasiswa memecahkan masalah riil. Metode ini mendorong lahirnya produk inovatif yang bernilai tinggi untuk portofolio mereka,” terang Dr. Lila Setiyani.
2. Inovasi Pembelajaran Digital Berbasis Outcome
Prof. Dr. Adiwijaya, S.Si., M.Si., Ketua APTIKOM Jawa Barat, menyampaikan materi strategis mengenai perancangan indikator keberhasilan pembelajaran digital berbasis outcome. Ia menekankan pentingnya learning analytics untuk mengukur ketercapaian kompetensi secara objektif dan real-time.
Prof. Adiwijaya menjelaskan konsep Continuous Quality Improvement (CQI) dalam siklus OBE. Hasil evaluasi setiap semester digunakan sebagai dasar perbaikan metode pengajaran dan pembaruan materi.
“Transformasi digital dalam kerangka OBE wajib berorientasi pada pencapaian outcome yang nyata. Penggunaan teknologi harus terukur dan relevan dengan dinamika tuntutan industri modern,” tutur Prof. Dr. Adiwijaya.
3. Sesi Praktikum Portofolio dan Showcase Gallery Work
Sesi siang diisi dengan praktikum mandiri dan terpandu yang dibawakan bersama oleh Dr. Lila Setiyani dan Dr. Erna Hikmawati. Seluruh peserta mempraktikkan penyusunan dokumen portofolio pembelajaran berbasis OBE untuk mata kuliah yang mereka ampu.
Komponen portofolio ideal meliputi matriks keselarasan CPL-CPMK, sampel RPS, instrumen asesmen beserta rubrik penilaian otentik, contoh hasil kerja mahasiswa, serta dokumen evaluasi reflektif dosen.
Setelah penyusunan selesai, peserta mengikuti Showcase Gallery Work. Mereka memamerkan draf dokumen portofolio dan saling memberikan masukan untuk penyempurnaan.
“Sesi praktikum dan pameran galeri karya ini memastikan bahwa setiap peserta tidak hanya pulang membawa teori, tetapi juga membawa draf dokumen portofolio OBE yang siap diterapkan di kampus masing-masing,” ungkap Dr. Erna Hikmawati.
Penutupan, Evaluasi, dan Rencana Tindak Lanjut
Rangkaian workshop dua hari resmi ditutup oleh Solikin, S.Si., M.T. pada Jumat sore, 31 Juli 2026. “Komitmen berkelanjutan para dosen dalam menerapkan sistem OBE berbasis teknologi digital akan memperkuat daya saing lulusan secara nasional maupun global, sekaligus mencetak SDM unggul dan adaptif,” tegas Solikin.
Sebagai apresiasi, panitia memberikan penghargaan kepada tiga peserta terbaik berdasarkan kualitas RPS dan estetika portofolio. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan sertifikat, pembagian doorprize, serta foto bersama seluruh panitia, narasumber, dan peserta.
Ke depan, Telkom University dan APTIKOM Jawa Barat berkomitmen melanjutkan sinergi melalui program pemantauan dan evaluasi keberlanjutan implementasi OBE di setiap kampus. Langkah ini diharapkan mampu mengakselerasi adopsi kurikulum berbasis digital, mempercepat transformasi akademik, serta membentuk standar lulusan yang relevan dengan dinamika industri global.
Kolaborasi ini mengukuhkan peran kepemimpinan kedua lembaga dalam mempelopori modernisasi pendidikan tinggi informatika di Indonesia.
Penulis: Radja Mahesa Waluya & Ihsan Faiz | Editor: BPA | Foto: BPA

